Lenyapkan Kanker Payudara

Trubus 396 – November 2002/XXXIII Halaman 55-56

BAWANG DAYAK
Lenyapkan Kanker Payudara

Begitu keluar dari ruang pemeriksaan Titiek Sri Rahayu langsung memeluk anaknya. Mereka berdua menangis tersedu-sedu tak kuasa menahan haru. Benjolan di payudara kiri membuahkan vonis kanker. Saran dokter untuk segera mengangkat sel kanker terlalu berat dipenuhi. “Bukan masalah biaya, tapi kehilangan payudara adalah sesuatu yang tidak menyenangkan,” kata ibu berusia 37 tahun itu.

Kejadian itu 8 tahun lalu, tapi titiek selalu mengingatnya. Makanya, ketika ia diminta menceritakan kembali, kata-kata meluncur mendahului jalan pikiran. “Saya ingat betul betapa sedih mengidap penyakit yang mematikan. Apalagi sebelum itu tak pernah mengalami gangguan kesehatan berarti,” Ucap pegawai Depdiknas bagian kepurbakalaan DKI Jakarta itu.

Titiek mengetahui dirinya terkena kanker payudara ketika mandi. Ia merasakan benjolan di bagian bawah payudara kanan. Benjolan itu kian membesar. “Cepat sekalu tumbuh, dalam waktu sebulan sudah sebesar telur ayam,” tuturnya. Kebetulan tetangga di sebelah kiri rumah pegawai rumah sakit. Penemuan yang mengejutkan sekeluarga itu diinformasikannya.

Atas dorongan tetangganya pula, ibu bersuami wartawan itu memeriksakan diri ke bagian bedah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pemeriksaan tidak hanya benjolan, tapi menyeluruh. Jantung, urine,tekanan darah semua diukur. Satu kata yang terucap dari dokter, “Kanker.” Vonis itu membuat perempuan asal Magelang itu bolak-balik ke rumah sakit sebulan penuh.

Kempes

Selama pengobatan, ibu yang sering menyelam di laut dalam menjalankan tugas itu tiba-tiba teringat kakak ipar di Magelang. Sang kakak pernah terkena radang usus dan sembuh dengan obat tradisional. Bagi Titiek itu suatu titik terang. Sebab obat tradisional yang dimaksud ada di lantai atas rumah. Sepulang dari rumah sakit rumpun bawang sabrang yang ditanam di pot tanah liat segera di cabut.

Umbi berbentuk bulat telur memanjang sebesar beton (biji nangka) dicuci. Lalu, “Saya iris tipis-tipis. Sewaktu dimakan irisan bawang sabrang diselipkan pada buah pisang,” tutur Titiek. Maklum, rasa bawang sabrang langu, pahit, dan lidah terasa keras seperti minum air panas. Titiek memakannya 3 kali sehari, pagi, siang dan sore sebanyak 1,5-2 umbi.

“Alhamdulillah setelah 2 minggu rutin makan irisan bawang sabrang benjolan mengecil,” kata penyayang kucing kampung itu. Benjolan yang semula berukuran 7 cm x 4 cm tinggal sebesar kacang tanah. Namun, benjolan yang sudah mengecil itu keras sekali. “Mungkin itu intinya dan susah hilang,” tambahnya. Hingga persediaan 2 pot bawang sabrang habis, benjolan tetap ada. Padahal ketika masih sebesar telur ayam, penyusutan dari hari ke hari terlihat jelas.

Pesan Kamar

Titiek sebetulnya tak berniat berhenti mengkonsumsi bawang sabrang. Ia yakin hilangnya benjolan tinggal menunggu waktu. Sayangnya, kiriman bawang dari Magelang tak kunjung datang. Selama 2 minggu Titiek absen mengganyang bawang yang memang tak disukai itu. Kekhilapan itu harus dibayar mahal. Benjolan bertambah besar, bahkan memecah menjadi dua, di atas dan bawah payudara.

Menghadapi kenyataan itu, keluarga panik. Tetangganya kembali membujuk Titiek untuk operasi. Kamar si rumah sakitpun dipesan. “Apa boleh buat saya menyetujui kendati hati empot-empotan,” ujar Titiek. Namun, lagi-lagi ibu yang hobi memasak itu memohon waktu beberapa hari untuk mencoba mengkonsumsi bawang sabrang sebelum operasi. Tepat 10 hari sejak pemesanan kamar. Payudara Titiek menunjukkan perubahan berarti, terus mengecil.

“Oh, iya-iya mengecil,” ucap Titiek menirukan para tetangga. Kamar operasi yang sudah di pesan langsung dibatalkan. Betul dugaan Titiek, tak sampai 1 bulan melahap umbi kemerahan itu kedua benjolan lenyap. Kesembuhannya sampai sekarang memang tak dikonfirmasikan ke dokter. Hanya saja istri Eko Sukasno itu tak lagi merasakan lagi mudah lelah dan nyer-nyeran pada payudara.

Asal Kalimantan

Kehebatan bawang sabrang diketahui Titiek sejak lama. Bahkan bawang itu sudah menjadi “pusaka” keluarga. Widodo, saudara Titiek diselamatkan bawang sabrang itu waktu terserang gondok. Hanya dalam waktu 1,5 bulan gondok sekepalan tangan bayi itu lenyap. Demikian Effendi Dachlan, kakak ipar yang tinggal di Kudus, sembuh kanker usus besar karena bawang sabrang.

Menurut Titiek bawang itu pertama kali didatangkan dari Pontianak. Oleh karena itu, ia biasa menyebutnya bawang dayak. Di Pontianak sendiri dikenal dengan sebutan bawang arab karena dibawa dari Arab Saudi. Sementara orang Kalimantan Timur menyebutnya jari angau atau bawang hutan. “Orang-orang Dayak memanfaatkan bawang sabrang sebagai obat mencret. Umbi dipotong-potong, direbus, lalu air rebusan diminum,” kata Titiek. Di Medan bawang sabrang dipercaya untuk mengobati segala penyakit. Tidak aneh jika banyak dijajakan di pasar.

Buku Tumbuhan Beguna Indonesia karangan K. Heyne pun mengungkapkan bawang sabrang banyak manfaat. Umbi bawang Eleutherine americana itu sangat baik untuk peluruh kemih, muntah dan pencahar. Perasan umbi setelah dipanggang untuk obat penyakit kuning dan kelamin.

Pengalaman Ny Kloppenburg, umbi mentah bersifat menyejukkan, menghentikan pendarahan, dan menyebuhkan peradangan poros usus. Tumbukan umbi yang dicampur adas pulosari untuk obat mencret darah. Gerusan daun bawang sabrang bersama daun lain sangat baik untuk wanita yang tengah haid. (Ir. Nurur Rokhmah Bintari)

Cukup Umur

Kendati tidak terlalu istimewa, bawang sabrang sering ditanam di pot sebagai penghias teras. daunnya berbentuk pita sepanjang 15-20 cm, lebar 3-5 cm mirip palem. Bunga mungil berkelopak lima, warna putih. Tanaman yang membutuhkan matahari langsung itu diperbanyak dengan anakan atau umbi. “Bagian pangkal umbi yang tidak dimakan dapat dijadikan bibit,” kata Titiek yang kini getol mengepotkan.

Berdasarkan pengalaman Titiek, umbi bawang sabrang cukup besar untuk dikonsumsi setelah berumur 1-2 cm. Jika ditanam di tanah gembur perkembangan umbi cepat besar. “Sebaiknya untuk pengobatan umbi dipanen pada akhir pertumbuhan vegetatif,” ujar dr Zainal Gani, pengobat tradisional di Malang. Kondisi itu diartikan tanaman sudah mengeluarkan bunga, tapi masih kuncup.

Zainal mengaku belum mengenal tanaman bawang sabrang lebih jauh. Namun, ia mendengar di beberapa daerah sudah banyak yang memanfaatkan sebagai tanaman obat. Itu juga dikemukakan Ir Wahyu Suprapto, mantan Kepala Balai Meterian Medika, Malang yang menekuni pengobatan tradisional. “Bawang sabrang biasanya untuk mempercepat masak bisul dan mencegah peradangan,” ucap Wahyu.

Lebih jauh ia menjelaskan, bawang sabrang bersifat dingin dan menghilangkan nyeri. Makanya sebagai obat luar cocok untuk mengobati bisul yang bersifat panas. “Kanker mungkin bisa sembuh dengan bawang sabrang, sebab bisul juga termasuk tumor. Cuma, respon masing-masing orang terhadap bawang sabrang berbeda karena perbedaan metabolisme,” papar Wahyu. Oleh karena itu pula sifat obat tradisional cocok-cocokan. (Ir Nurur Rokhmah Bintari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s