Sekolah Rakyat

Sekarang apa-apa mahal. Seakan harga adalah sesuatu yang mati meski akrab dengan kehidupan kita. Seakan kelemahan, kerepotan, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan sudah menjadi komoditas tersendiri bagi sebagian kalangan bangsa kita.

Roti buat seorang, belum tentu untuk orang lain. Goyang dan tarian pesta serta nyanyi-nyyanyi telah menjadi tradisi setiap hari, hingga ada stasiun TV yang setiap hari hanya mengisi dengan kata eliminasi dan kesedihan. Kapan sang nabi akan datang dan mengabarkan berita gembira. Kenapa yang datang adalah kecongkakan dan kesedihan yang diperjual belikan oleh orang lain.

Jangankan untuk meminta tolong, untuk mendengar cerita cintapun sekarang seakan telah tiada. Mimpi saja disomasi, penderitaan rakyat dipolitisi. Dan seniman terus bernyanyi. Dan mengemis telah menjadi sebuah profesi. Harus bagaimana mensikapi semua ini.

Tiada yang peduli atas nama cinta dan hati tulus murni. Semua adalah uang dan materi. Ini hadiah untuk sebuah negara merdeka, berdaulat dan mempunyai kekayaan yang melimpah ruang. Yang tak dimiliki bangsa lain di dunia.

Sejuta aksi hanya menjadi komoditi TV, tak lagi tersampaikan aspirasi. Konflik terjadi dimana-mana dari tingkat rumah tangga sampai senayan CITY. Tidak heran, karena mereka adalah para wakil rakyat, saat rakyat ribut berebut antrian sembako dan minyak. Mereka juga ribut dengan miyak skala mereka. Benar-benar sempurna.

Keprihatinan terus melanda negeri ini, seakan menjadi teman mesra para pujangga menulis syair tentang hati yang khawatir. Peristiwa seakan menjadi senyum mesra inspirasi bagi sang penulis cerita, pujangga, pencipta dan yang paling diuntungkan adalah penulis berita.

Tangisan terdengar merdu, bertalu-talu seperti uang datang menghadang. Berita hadir dimana-mana menyiarkan berbagai fakta dengan sedikit perubahan susunan kata tanpa harus merubah makna. Gambar dan isinya kadang sama saja.

Sudah saatnya rakyat sadar dan masuk sekolah. Sekolah rakyat tentunya, karena rakyat yang kaya telah dirampas hartanya, kebebasannya, kecerdasannya dan bahkan hati nuraninya. Penjajahan atas bangsa sendiri lebih mengerikan dibanding penjajahan dalam cerita buku sejarah yang pernah dikisahkan disekolah-sekolah.

Mari bangkit bersama. Pribumi tetap pribumi, karena sekarang INDONESIA akan memasuki babak dan periode baru dalam kancah dan sistem tata dunia baru.

Selamat hari bumi. Semoga kita sadar bahwa kita manusia berasal dari tanah dan akan kembali ketanah sehingga mau menjadi manusia seutuhnya. Lupakan penjajahan, kita sama-sama ditakdirkan merdeka bukan?

2 responses to “Sekolah Rakyat

  1. maju terus bangsa Indonesia

  2. Somehow i missed the point. Probably lost in translationšŸ™‚ Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Tigris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s