Solusi Transportasi

Solusi Transportasi : Knalpot Antipolusi Berteknologi Plasma

Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change Working Group yang dirilis April 2007, memprediksikan suhu/temperature global yang akan meningkat 4 derajat ada akhir abad 21 dibanding akhir abad ke 20. Polusi yang diakibatkan angkutan darat memberikan kontribusi gas berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), hidro karbon (HC), karbon monoksida (CO) dan debu. Polusi tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan hidup, namun juga memberikan dampak buruk terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia.

Lebih jauh, kondisi ini juga menjadi penyebab meningkatnya jumlah kematian akibat penyakit paru-paru dan jantung. Sementara Bank Pembangunan Asia (ADB) dan CAI-Asia, memperkirakan kerugian ekonomi akibat buruknya kualitas udara dapat mengurangi dua hingga empat persen pendapatan nasional sebuah negara.

Tingginya angka pencemaran udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor menarik perhatian Dr. Muhammad Nur, D.E.A., seorang doktor bidang Fisika Universitas Diponegoro (Undip) Semarang untuk melakukan penelitian dan menciptakan knalpot antipolusi berteknologi plasma sejak tahun 1998 hingga tahun 2004. Teknologi ini diharapkan menjawab tuntutan Clean Development Mechanism (CDM) dari PBB, dimana kota-kota besar di dunia juga menerapkan program Urban Air Quality  sebagai cara menerapkan berbagai standard dan peraturan emisi gas buang, baik peralatan mesin bersifat statis maupun alat transportasi. Program UAQ ini berlakukan di 10 kota besar di Indonesia akan berlangsung sampai tahun 2010.

Knalpot plasma ini berdasarkan uji coba yang sudah dilakukan mampu mereduksi gas buang seperti senyawa CO2 hingga 70 persen, CO 93 persen, dan HC mencapai 70 persen. Karena gas buang beracun yang direduksi sangat tinggi, maka kadar oksigen yang sangat dibutuhkan makhluk hidup dapat naik hingga 50 persentase.

Cara Kerja

Ketika gas-gas emisi ini dilewatkan dalam sistem reaktor, semuanya dibangkitkan menjadi plasma. Plasma ini adalah gas yang terionisasi dan kemudian ada yang menjadi radikal bebas maupun atom yang secara fisis telah tereksistasi. Sehingga ketika gas tersebut keluar dari reaktor sudah menjadi sesuatu yang baru dan tak lagi bersifat polutan, yaitu debu halus padatan aerosol yang menurut kami menjadi amonium karbonat dan amonium sulfat. Knalpot ini mampu mengubah polutan atau gas emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor menjadi senyawa baru yang netral dan tidak berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Secara teknis, knalpot antipolusi ditempatkan sebuah reaktor plasma di dalam knalpot kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil. Reaktor ini akan mengubah fase gas menjadi fase plasma. Plasma sendiri mengandung banyak ion radikal bebas di dalam reactor plasma yang dalam waktu singkat akan saling bereaksi. Hasil reaksi inilah yang kemudian berubah menjadi senyawa baru yang netral dan aerosol.

Berdasarkan hasil penelitian menggunakan analisis spektroskopi, sejumlah senyawa baru yang terbentuk dari reactor plasma adalah Amonium Sulfat dan Amonium Karbonat. Reaktor plasma itu merupakan suatu sistem yang dapat mengubah fase gas menjadi fase plasma. Agar dapat bekerja secara baik, reaktor plasma membutuhkan sumber tenaga pembangkit berupa energi listrik. Pada awalnya, sumber tenaga pembangkit diambilkan dari sebuah sumber pembangkit (generator) yang bergantung pada tegangan listrik PLN. Namun pada perkembangannya, tim peneliti berhasil menemukan sebuah desain generator plasma dari generator pengapian mobil yang termodifikasi dan disebut sebagai generator bergerak.

Sumber energi awal yang digunakan dalam model ini berasal dari sumber tegangan DC yang ada di kendaraan bermotor. Generator bergerak ini dapat ditempatkan di dalam mobil atau kendaraan bermotor.Berdasarkan hasil uji coba di laboratorium, unsur polutan atau gas emisi yang dikeluarkan kendaraan dapat dinetralisasi hingga mencapai 100 persen. Karbon dioksida misalnya, setelah diproses dalam knalpot berteknologi plasma dapat dinetralisasi hingga 86,5 persen, gas karbon monoksida (CO) dapat menyusut hingga 88,9 persen dan gas hidrokarbon (HC) dapat menyusut 97,37 persen dengan perputaran mesin mencapai 2.200 rpm. Sedangkan gas nitrogen dioksida dapat dinetralisasi hingga 76,19 persen pada putaran mesin 4.600 rpm. Kombinasi ini menghasilkan tingkat pereduksian yang cukup tinggi untuk berbagai gas emisi. Seperti Cox, Nox, Sox, dan HC dari kendaraan berbahan bakar bensin dan solar.

Dr. Muhammad Nur, D.E.A., merintis penelitiannya sejak 1998 dengan biaya sendiri. Baru sejak 2003, Direktorat Pendidikan Tinggi turun tangan memberi dana, yang kemudian dilanjutkan Kementerian Ristek sejak setahun lalu. Kini, sambil terus menyempurnakan prototipe knalpot plasma, Nur –bekerja sama dengan PT Dharma Poli Metal– berencana memasuki tahap produksi massal. Direncanakan setiap tahun PT Dharma Polimetal memproduksi sekitar tiga juta knalpot. Knalpot berteknologi plasma ini tidak hanya untuk sepeda motor dan mobil, tetapi bisa diaplikasikan pada genset dan cerobong pembuangan pada peralatan mesin lain. Untuk urusan paten, Nur mengatasnamakan pemegangnya pada Undip. Di masa depan, teknologi ini dapat menjadi pilihan utama teknologi industri kelak sambil tetap melestarikan lingkungan. (Diolah dari berbagai sumber-humasristek)

http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=1881

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s