Makna

Ketika kamu menulis kamu harus tahu maknanya, begitulah pesan dosenku pagi ini. Andai saja ketika kita menulis tahu semua maknanya, betapa cepat bangsa ini maju, berlari mengejar ketertinggalan tanpa harus meninggalkan dan membuang apa yang telah kita capai.

Ketika kita menulis kita telah melalui proses membaca dan mencoba menuliskannya. Ada proses panjang sehingga kita dapat menulis dengan baik. Menulis dengan baik, memahami apa yang kita tulis dan dapat menyampaikan pesan yang terkandung dalam tulisan baik secara tersurat maupun tersirat.

Sekolah sebagai tempat institusi formal dalam pegajaran, tranfer ilmu, penggalian ilmu, pencarian ilmu, eksploitasi ilmu, pengolahan ilmu, produksi ilmu, distribusi ilmu, gudang ilmu, dan mungkin juga sampah ilmu. Sudah menjadi suatu keharusan kalau kita didik di pendidikan kita menjadi orang berpendidikan. Kalau kita telah diceburkan kedalam ilmu sudah suatu keniscayaan kalau kita lebur dalam ilmu dan menjadi bagian dari ilmu. Tetapi kenyataannya banyak kejadian dan fakta tak selaras sejalan dengan harapan. Ilmu seperti enggan dan kalis untuk merasuk kedalam diri sang siswa seperti larusnya gula dalam air. Kenapa?

Kenapa? pertanyaan sederhana yang sampai sekarang aku tak tahu makna dari kata ” kenapa “. Haruskah aku menjawab karena, sebab, atau kondisi dan situasi. Semua seperti sebuah kalimat pemberontakan dan pelarian. Ya, sebuah pelarian, pelarian untuk menyelamatkan diri sehingga diri ini terbebas dari sebuah fakta bahwa kita tidak bertanggungjawab dengan apa yang terjadi. Atau malah sebuah bentuk tanggung jawab atau hanya sebuah jawaban yang telah kita persiapkan sebelum pertanyaan itu ditanyakan.

Setelah membaca tulisan ini mungkin Anda akan semakin bingung “kenapa”. Tanpa sadar atau memang kita sadari bahwa ” makna” merupakan sesuatu yang perlu kita tulis dan kita sampaikan dengan benar. Makna merupakan roh sebuah pesan yang harus mampu dan mudah dipahami oleh penulis dan pembaca sehingga “makna” dapat sampai seperti “makna” yang benar. “makna” begitu fital sehingga pihak pemberi pesan dan pemberi pesan sama-sama memberi pe”makna”an yang sama-sama dipahami.

Sebuah makna yang tidak harus sama, tidak juga harus berbeda dalam istilah dan bahasa tetapi “makna” semua sama-sama dapat memberi “makna”. Sehingga tidaklah mengherankan kalau dalam ajaran Tuhan menyebutkan bahwa sak “makna”ne menjadi sebuah obat untuk sakit “HATI”. Dimana dalam perintah lima obat “hati” disebutkan bahwa obat hati itu lima adanya, dan salah satunya adalah membaca “Al Qur’an” sak “makna”ne [ membaca Al Qur’an [kitab suci orang Islam] beserta maknanya ]. Kalau hanya membaca hati belum tentu penyakit “HATI” dapat terobati, taruhlah ada yang mengatakan dengan membaca hati merasa tentram dan bahagia. Perasaan yang tentram dan terasa bahagia belum tentu “HATI” tidak sakit.

Begitu penting sebuah “makna” hingga hidup orang itu dikatakan mati apabila tidak memberi “makna”. Hampa bukan berarti tidak ada. Orang bijak berkata bahwa kosong adalah berisi, berisi adalah kosong. Apakah “makna” dari kata-kata orang bijak itu. Saya tertarik dengan “mimpi”, bagi orang yang percaya dan yakin mimpi mempunyai “makna”. Apakah mimpi benar-benar terjadi. Mungkin banyak yang menyangkal bahwa mimpi memang terjadi. Kejadian mimpi merupakan suatu fakta dan realita yang memang benar-benar terjadi.

Bukti bahwa mimpi merupakan benar-benar terjadi. Pernahkah Anda bermimpi? Adakah yang memjawab belum pernah? Sebuah kejadian yang benar-benar terjadi. Terjadi dimana? Terjadi di Alam mimpi. Kapan itu terjadi? Saat Anda tidur. Jam berapa? Orang tidur tidak dapat melihat Jam atau penunjukkan waktu tetapi Anda bisa menjawab bahwa Anda tidur dari jam sekian sampai jam sekian, maka dalam rentang waktu itulah Anda hidup di sebuah alam yaitu alam mimpi.

“Makna” sebuah kata yang tak bermakna meski orang mengatakan bahwa makna adalah sebuah definisi, arti atau pemahaman tetapi faktanya “makna” hanyalah satu kata tak bermakna. Ada orang begitu khawatir dan ketakutan saat bermimpi buruk sebelum memahami “makna”nya. Ada orang yang memberi “makna” mimpi yang dialami dengan menghubungkan dengan kejadian yang akan terjadi di dunia. Ada orang yang begitu bahagia setelah bermimpi indah. Bagaimanapun mimpi tetaplah mimpi sebuah alam yang tidak kita sadari kita kadang bertandang kesana tanpa sengaja atau kalau Anda memang mampu silahkan memasuki alam mimpi.

Mimpi sebuah misteri yang bukan misteri. Alam yang benar-benar ada tetapi sampai saat ini hanya dikatakan bahwa alam itu adalah bunga tidur. Sang Nabi, sebagai pembawa ajaran metode hidup bijak yang banyak dianut oleh orang yang hidup di alam dunia, mereka mampu membawa dan memberikan sebuah “makna” yang tak jarang mereka dapatkan dari sebuah alam yaitu alam mimpi. Tulisan atau manuskrip yang berisi ajaran hidup bijak tak sedikit dan mungkin semua di hadirkan dari alam mimpi. Apabila ada yang ada ajaran yang tidak berasal dari sebuah alam misteri atau alam gaib maka tidak jarang bahwa ajaran tersebut hanyalah buatan manusia.

Jadi tulisan hidup yang ada dalam kitab kehidupan kita, perlu kita baca [ kita jalani ] beserta “makna”nya. Sehingga benar adanya bahwa guru, rahib atau ustads saya mengatakan dalam menulis kita harus tahu dan paham “makna”nya. Ya, hanya sebuah kata “makna”, sebuah kata yang tak ber”makna”.

One response to “Makna

  1. apakah makna itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s