Anak Indonesia

Apakah kita adalah pembantu, diri kita sendiri yang lebih tahu. Apakah kita sudah menjadi tuan di negeri sendiri? Bagaimanapun mars pembantu ingin meneriakkan dan menyuarakan suara pembantu.
Mars Pembantu

Kata orang di atas bumi, kita semua sama
Kata orang di mata Tuhan, tidak ada miskin dan kaya
Katanya…
katanya…

Kalau memang benar begitu
Kenapa nasibku jadi babu?
Kerja apapun ku tak malu, tapi hidup kok gak maju-maju
Celana cuma punya satu

meski banyak padi di sawah, hatikku selalu resah
meski tlah ganti pemerintah, hidupku selalu susah
oh nasib pembantu
selalu disuruh suruh

350 tahun lamanya bangsa kita dijajah bangsa asing, tapi kenapa sekarang penjajahan itu masih terus berlangsung?
hanya saja bangsa sendiri, menjajah bangsa sendiri

meski banyak padi di sawah hatikku selalu resah
meski ganti pemerintah, hidupku selalu susah
oh nasib pembantu
selalu disuruh, selalu apa?
Disuruh-suruh…

Benarkah bangsa Indonesia telah merdeka dan berkedaulatan di Indonesia? Mungkin ada merasa bukan babu, tetapi sengaja atau tanpa disengaja kita adalah babu. Kemerdekaan dan kedaulatan bukan untuk ditunggu, kemerdekaan dan kedauatan tetap harus diperjuangkan.

Kata orang diatas bumi, kita semua sama

Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan negara kerajaan, kekaisaran, maupun negara teokrasi, sehingga sudah selayaknya di negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menjunjung demokrasi. Demokrasi menempatkan kita dalam posisi egaliter, tidak ada bedanya, kita semua sama. Tidak ada kaum ningrat, tidak mengenal kasta maupun kelas-kelas di masyarakat. Tidak ada warga kelas satu, kelas dua maupun kelas tiga.

Kesadaran akan kesamaan dalam semua aspek dan bidang kehidupan masih dipertanyakan di negeri ini. Orang-orang yang masih mempunyai darah atau berasal dari keturunan kaum ningrat jaman dahulu seperti tidak terima atau menimal gagap dalam menghadapi situasi sekarang. Keadaan itu memaksa mereka untuk tetap memperjuangkan kelas mereka, dimana kelas tersebut dianggap mempunyai nilai lebih dibanding dengan yang lain. Puing-puing masa lalu masih tetap membayangi dalam benak sebagian besar bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dari calon ataupun pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia masih mempunyai garis keturunan dari wong ningrat tempo doeloe.

Keterbatasan dan kesadaran masyarakat akan kedudukan yang sama membuat bangsa ini kesulitan untuk mencari dan menentukan figur baru, figur seorang pemimpin. Figur pemimpin yang benar-benar layak dan mampu memimpin negeri ini. Keadaan semakin diperparah dengan adanya pihak-pihak yang memanfaatkan keterbatasan dan kesadaran masyarakat, hal ini terbukti dengan masih besarnya pertimbangan masyarakat yang memilih pemimpin berdasarkan garis keturunan. Seakan masyarakat takut dan ragu, jikalau negeri ini dipimpin oleh orang yang tidak mempunyai garis keturunan ningrat. Meskipun Indonesia gencar menyuarakan demokrasi dan persamaan, di sisi lain, bangsa Indonesia masih memelihara dan melestarikan kasta-kasta. Kita ingin tercipta keadaan yang egaliter, tetapi dalam praktiknya kita bertindak membinasakan harapan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s