internet murah

Entries categorized as ‘1’

asal pulsa murah

February 28, 2009 · Leave a Comment

Selamat datang di bisnis mudah dan murah hasil melimpah

Bisnis apalagi yang paling potensial di era informasi dan komunikasi kalau bukan PULSA. Yah, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi kita dapat membeli tanpa harus datang ke tempat penjual dan untuk menjual kita tidak perlu membuka lapak yang besar dengan biaya selangit. Semua baik, tetapi kadang kita mengalami kesulitan saat memulai. Kalau Anda mengalami hal yang seperti itu. Mari melangkah dengan bisnis ini, mungkin Anda masih ragu tetapi bersama Kami, mari kita memulai langkah pertama untuk menapaki rimba dan universitas hidup ini.

Berawal dari sebuah blog (www.egatronika.blogspot.com) bisnis yang belum besar ini mulai menapaki jalan kehidupan dan mulai membuka harapan dan impian. Dengan uang Rp 100.000,- Anda bisa memulai usaha langkah Anda dan tinggalkan keraguan Anda. Anda boleh memilih dan memilah tetapi semoga bersama kami Anda bisa mencari jati diri. Karena kami tidak hanya menjual tetapi kami mencoba menggali inspirasi dan merealkan inspirasi itu.

Kadang kebuntuan begitu membuat keberdayaan menjadi tertindas. Kemampuan menjadi hilang entah kemana. Banyak penjual yang menjanjikan bonus, ini itu. Sehingga bukan esensi jualan atau niatan menjual yang menjadi sponsor utama tetapi pamer bonus tanpa kerja menjadi pajangannya.

by www.egatronika.blogspot.com
085 6365 1917

Categories: 1

Lenyapkan Kanker Payudara

September 27, 2008 · Leave a Comment

Trubus 396 – November 2002/XXXIII Halaman 55-56

BAWANG DAYAK
Lenyapkan Kanker Payudara

Begitu keluar dari ruang pemeriksaan Titiek Sri Rahayu langsung memeluk anaknya. Mereka berdua menangis tersedu-sedu tak kuasa menahan haru. Benjolan di payudara kiri membuahkan vonis kanker. Saran dokter untuk segera mengangkat sel kanker terlalu berat dipenuhi. “Bukan masalah biaya, tapi kehilangan payudara adalah sesuatu yang tidak menyenangkan,” kata ibu berusia 37 tahun itu.

Kejadian itu 8 tahun lalu, tapi titiek selalu mengingatnya. Makanya, ketika ia diminta menceritakan kembali, kata-kata meluncur mendahului jalan pikiran. “Saya ingat betul betapa sedih mengidap penyakit yang mematikan. Apalagi sebelum itu tak pernah mengalami gangguan kesehatan berarti,” Ucap pegawai Depdiknas bagian kepurbakalaan DKI Jakarta itu.

Titiek mengetahui dirinya terkena kanker payudara ketika mandi. Ia merasakan benjolan di bagian bawah payudara kanan. Benjolan itu kian membesar. “Cepat sekalu tumbuh, dalam waktu sebulan sudah sebesar telur ayam,” tuturnya. Kebetulan tetangga di sebelah kiri rumah pegawai rumah sakit. Penemuan yang mengejutkan sekeluarga itu diinformasikannya.

Atas dorongan tetangganya pula, ibu bersuami wartawan itu memeriksakan diri ke bagian bedah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pemeriksaan tidak hanya benjolan, tapi menyeluruh. Jantung, urine,tekanan darah semua diukur. Satu kata yang terucap dari dokter, “Kanker.” Vonis itu membuat perempuan asal Magelang itu bolak-balik ke rumah sakit sebulan penuh.

Kempes

Selama pengobatan, ibu yang sering menyelam di laut dalam menjalankan tugas itu tiba-tiba teringat kakak ipar di Magelang. Sang kakak pernah terkena radang usus dan sembuh dengan obat tradisional. Bagi Titiek itu suatu titik terang. Sebab obat tradisional yang dimaksud ada di lantai atas rumah. Sepulang dari rumah sakit rumpun bawang sabrang yang ditanam di pot tanah liat segera di cabut.

Umbi berbentuk bulat telur memanjang sebesar beton (biji nangka) dicuci. Lalu, “Saya iris tipis-tipis. Sewaktu dimakan irisan bawang sabrang diselipkan pada buah pisang,” tutur Titiek. Maklum, rasa bawang sabrang langu, pahit, dan lidah terasa keras seperti minum air panas. Titiek memakannya 3 kali sehari, pagi, siang dan sore sebanyak 1,5-2 umbi.

“Alhamdulillah setelah 2 minggu rutin makan irisan bawang sabrang benjolan mengecil,” kata penyayang kucing kampung itu. Benjolan yang semula berukuran 7 cm x 4 cm tinggal sebesar kacang tanah. Namun, benjolan yang sudah mengecil itu keras sekali. “Mungkin itu intinya dan susah hilang,” tambahnya. Hingga persediaan 2 pot bawang sabrang habis, benjolan tetap ada. Padahal ketika masih sebesar telur ayam, penyusutan dari hari ke hari terlihat jelas.

Pesan Kamar

Titiek sebetulnya tak berniat berhenti mengkonsumsi bawang sabrang. Ia yakin hilangnya benjolan tinggal menunggu waktu. Sayangnya, kiriman bawang dari Magelang tak kunjung datang. Selama 2 minggu Titiek absen mengganyang bawang yang memang tak disukai itu. Kekhilapan itu harus dibayar mahal. Benjolan bertambah besar, bahkan memecah menjadi dua, di atas dan bawah payudara.

Menghadapi kenyataan itu, keluarga panik. Tetangganya kembali membujuk Titiek untuk operasi. Kamar si rumah sakitpun dipesan. “Apa boleh buat saya menyetujui kendati hati empot-empotan,” ujar Titiek. Namun, lagi-lagi ibu yang hobi memasak itu memohon waktu beberapa hari untuk mencoba mengkonsumsi bawang sabrang sebelum operasi. Tepat 10 hari sejak pemesanan kamar. Payudara Titiek menunjukkan perubahan berarti, terus mengecil.

“Oh, iya-iya mengecil,” ucap Titiek menirukan para tetangga. Kamar operasi yang sudah di pesan langsung dibatalkan. Betul dugaan Titiek, tak sampai 1 bulan melahap umbi kemerahan itu kedua benjolan lenyap. Kesembuhannya sampai sekarang memang tak dikonfirmasikan ke dokter. Hanya saja istri Eko Sukasno itu tak lagi merasakan lagi mudah lelah dan nyer-nyeran pada payudara.

Asal Kalimantan

Kehebatan bawang sabrang diketahui Titiek sejak lama. Bahkan bawang itu sudah menjadi “pusaka” keluarga. Widodo, saudara Titiek diselamatkan bawang sabrang itu waktu terserang gondok. Hanya dalam waktu 1,5 bulan gondok sekepalan tangan bayi itu lenyap. Demikian Effendi Dachlan, kakak ipar yang tinggal di Kudus, sembuh kanker usus besar karena bawang sabrang.

Menurut Titiek bawang itu pertama kali didatangkan dari Pontianak. Oleh karena itu, ia biasa menyebutnya bawang dayak. Di Pontianak sendiri dikenal dengan sebutan bawang arab karena dibawa dari Arab Saudi. Sementara orang Kalimantan Timur menyebutnya jari angau atau bawang hutan. “Orang-orang Dayak memanfaatkan bawang sabrang sebagai obat mencret. Umbi dipotong-potong, direbus, lalu air rebusan diminum,” kata Titiek. Di Medan bawang sabrang dipercaya untuk mengobati segala penyakit. Tidak aneh jika banyak dijajakan di pasar.

Buku Tumbuhan Beguna Indonesia karangan K. Heyne pun mengungkapkan bawang sabrang banyak manfaat. Umbi bawang Eleutherine americana itu sangat baik untuk peluruh kemih, muntah dan pencahar. Perasan umbi setelah dipanggang untuk obat penyakit kuning dan kelamin.

Pengalaman Ny Kloppenburg, umbi mentah bersifat menyejukkan, menghentikan pendarahan, dan menyebuhkan peradangan poros usus. Tumbukan umbi yang dicampur adas pulosari untuk obat mencret darah. Gerusan daun bawang sabrang bersama daun lain sangat baik untuk wanita yang tengah haid. (Ir. Nurur Rokhmah Bintari)

Cukup Umur

Kendati tidak terlalu istimewa, bawang sabrang sering ditanam di pot sebagai penghias teras. daunnya berbentuk pita sepanjang 15-20 cm, lebar 3-5 cm mirip palem. Bunga mungil berkelopak lima, warna putih. Tanaman yang membutuhkan matahari langsung itu diperbanyak dengan anakan atau umbi. “Bagian pangkal umbi yang tidak dimakan dapat dijadikan bibit,” kata Titiek yang kini getol mengepotkan.

Berdasarkan pengalaman Titiek, umbi bawang sabrang cukup besar untuk dikonsumsi setelah berumur 1-2 cm. Jika ditanam di tanah gembur perkembangan umbi cepat besar. “Sebaiknya untuk pengobatan umbi dipanen pada akhir pertumbuhan vegetatif,” ujar dr Zainal Gani, pengobat tradisional di Malang. Kondisi itu diartikan tanaman sudah mengeluarkan bunga, tapi masih kuncup.

Zainal mengaku belum mengenal tanaman bawang sabrang lebih jauh. Namun, ia mendengar di beberapa daerah sudah banyak yang memanfaatkan sebagai tanaman obat. Itu juga dikemukakan Ir Wahyu Suprapto, mantan Kepala Balai Meterian Medika, Malang yang menekuni pengobatan tradisional. “Bawang sabrang biasanya untuk mempercepat masak bisul dan mencegah peradangan,” ucap Wahyu.

Lebih jauh ia menjelaskan, bawang sabrang bersifat dingin dan menghilangkan nyeri. Makanya sebagai obat luar cocok untuk mengobati bisul yang bersifat panas. “Kanker mungkin bisa sembuh dengan bawang sabrang, sebab bisul juga termasuk tumor. Cuma, respon masing-masing orang terhadap bawang sabrang berbeda karena perbedaan metabolisme,” papar Wahyu. Oleh karena itu pula sifat obat tradisional cocok-cocokan. (Ir Nurur Rokhmah Bintari)

Categories: 1

Bagpacker

June 4, 2008 · Leave a Comment

Bagpacker atau tas punggung alias tas gendong, bagi yang senang jalan-jalan atau travelling. Setelah bacaan the naked traveller menginspirasi kehidupan ini saya membuat sebuah blog dengan isi tentang travelling. http://bagpackerku.blogspot.com

Categories: 1

Bagpacker

June 4, 2008 · 1 Comment

Bagpacker, sebuah kata yang sudah lama ku dengar dan ku tahu artinya tetapi tak kuperhatikan. Seorang temanku pulang dari Jakarta untuk interview, seperti biasa tidak ada jajan atau oleh-oleh apapun. Maklum saja kita semua adalah Persatuan Advokat Indonesia (PAI), advokad adalah sebutan untuk pengacara, sedangkan pengacara sendiri adalah singkatan dari pengangguran banyak acara. hee maaf buat pengacara beneran ya…

Setelah beberapa hari berada di kos, akhirnya muncul juga. Temanku terlihat membaca buku bersampul biru dan bertuliskan The Naked Traveller. Karena aku lumayan doyan dengan bacaan, aku pinjamlah buku temanku tadi. Buku oleh-oleh dari Jakarta.

Setelah membaca buku karangan trinity aku jadi punya inspirasi untuk melakukan traveling, hari senin kemarin aku traveling ke Solo. Kota dengan motto the spirit of java ini ternyata menyimpan hal-hal yang menarik. Niat perjalanan awalnya adalah menemani si shu (temanku se kos) untuk mengambil data untuk Tugas Akhir. Karena TA-nya berkaitan dengan pasar, pasar klitikan tepatnya.

Setelah sampai di kantor dinas kop & UKM, kami menuju kantor disperindag, eh si Ibu yang dicari tidak ada. Lagi rapat kata pegawai yang ada di kantor tersebut. Jadilah masuk agenda ke dua, yaitu ke pasar.

Asyik ke pasar, pasar klitikan. Setelah menunggu angkot lama tidak ada. Ternyata hari itu angkot di kota Surakarta melakukan demonstrasi dan pemogokan, jadi sepi, jarang angkot yang lewat. Setelah menunggu lama, dan kemungkinan ke klitikan susah transportasi maka kami mengalihkan tujuan.

Pasar klewer jadi fokus perjalanan, setelah menunggu beberapa waktu lewatlah bus jurusan pasar klewer. “pasar klewer?!!” tanyaku ke kondektur alias kernet bus. “Ya!!!” jawabnya.

Setelah perjalanan sampailah kami pada kawasan pasar dan kami di turunkan di situ. Eh ternyata klewer masih jauh men. Pokoknya turun, nyebrang jalan. Lurus notok belok kanan notok lagi, eit sebelum belok kami beli serabi dulu.

Kue serabi, rasanya enak, rp 1500,- / buah. Kue serabi berisi pisang yang telah di iris atau dihaluskan, sambil jalan menyusuri jalan disamping tembok tinggi benteng kraton dan berbalut sinar matahari yang panasnya bukan main, kami makan kue serabi. Halah, jalan terus ikuti benteng, ntar belok kanan dan sekitar 2oo m, sampai di pasar klewer.

Klewer merupakan pasar grosir untuk garmen atau pakaian jadi, aneka BH dan kancut adalah dagangan yang kami lihat di sepanjang gang masuk. Aneka batik di jual secara grosir, baju anak, remaja dan orang tua banyak tersedia. Seragam sekolah dasar, sampai seragam batik ala eksekutif muda ada.

Karena dibuat hewan dengan begitu banyak dan ramainya klewer kita sampai muter-muter setiap gang yang ada di dalam pasar. Setelah lelah, panas, haus dan lapar maka makan adalah agenda selanjutnya.

Mencari warung makan, jalan dan muter-muter, sampailah di lapangan parkir, terlihat para sopir angkot sedang berkumpul. Ada beberapa yang pulang. Karena jarang warung makan kami balik lagi masuk area pasar klewer, setelah masuk di gerbang besar bertuliskan PB X, terlihat berjajar warung makan, tetapi sebelum masuk warung kami di kejutkan dengan adanya teriakan demonstran yang sedang memaksa bus kota untuk menurunkan penumpangnya sebagai wujud partisipasinya terhadap demonstrasi menolak kenaikan BBM.

Berdiri sebentar, clingak-clinguk nyari warung yang cocok. Kita cari masakan yang aneh dan tidak ada di daerah tempat tinggal kami. Setelah mencari maka Nasi Timlo jadi pilihan, segera kami masuk warung dan memesan nasi timlo.

Nasi timlo seperti soto surabaya, sepiring nasi putih, semangkun kuah (kaya soto) berisi mie soon dan beberapa iris daging ayam. Ealah, tau gini makan mie ayam aja ya, heeee (porsinya kurang).

Sambil menunggu nasi disiapkan, kami makan tahu goreng ampe habis dua potong / orang. Segelas es teh (manis) dan datanglah nasi timlo. Makakaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnn. Setelah makan tiba saatnya membayar, “berapa bu?” tanya temanku

rp 20.000,- . Jumlah yang tidak terlalu gede sih buat yang punya duit, tetapi buat kami kaum kere hore bisa empat kali makan thu. Tapi kami tetap senang karena telah menikmati kuliner yang asing buat kami sebelumnya.

Setelah makan, waktunya balik ke kantor lagi, eit.. masalah besar karena angkot tidak ada. Temanku tanya pada si ibu pemilik warung makan, kalau becak ke Grand Mall berapa tarifnya. rp 10.000,-. Bukan mahal yang jadi masalah tetapi apakah becak dari klewer mau nyampe ke grand mall, maka kami terus jalan aja sampai perempatan dan menunggu bus. Karena masih terlihat bus kota yang beroprasi.

Setelah beberapa saat bus datang. Lega, kata kernet bus lewat grand mall. Kata bapak2 penumpang bus, tidak ada angkutan yang lewat grand mall. Ya, sambil kami turun, si kernet bilang ” deket mas, jalan ja sambil lihat cewek”. Alamat jalan panas dan jauh lagiiiiiiiii.

Ternyata benar jalan panjang dan panas kami susuri kembali, grand mall terlewati. Masih jalan lagi menuju disperindag, jauh dan panas. Akhirnya sampai di disperindag, temanku mengambil data dan aku menunggu sambil membaca koran “JogloSemar”.

Agenda selanjutnya ya pulang.

Categories: 1